Loading...

Optimasi Kesuburan Kebun dengan Limbah Sawit

14:23 WIB | Friday, 08-August-2014 | Iptek, Teknologi | Penulis : Kontributor

Limbah organik perkebunan dan pengolahan kelapa sawit sekarang sudah luas digunakan sebagai pupuk yang membantu menyuburkan lahan perkebunan sawit. Namun, suatu studi internasional menunjukkan bahwa untuk mengoptimalkan manfaat jangka panjang, aplikasi pupuk organik tersebut memerlukan kebijakan teknis tertentu.

 

Penelitian tersebut dilakukan oleh lembaga riset pertanian untuk pembangunan Perancis, CIRAD bersama beberapa lembaga mitranya belum lama ini di Provinsi Riau, Sumatera. Riset tersebut dimaksudkan untuk menilai respon tanah perkebunan sawit terhadap aplikasi jangka panjang pupuk organik dari limbah perkebunan kelapa sawit industrial. Atau untuk menjawab pertanyaan bagaimana efek jangka panjang aplikasi limbah kebun dan industri sawit terhadap karakteristik tanah.

 

Topik tersebut dinilai penting karena secara relatif penanganan dan aplikasi pupuk organik lebih mahal dibanding pupuk anorganik. Sehingga untuk tujuan meningkatkan kesuburan tanah kebun, produsen perlu mengetahui di mana dan seberapa sering perlu melakukan aplikasi pupuk organik. Comte dkk yang melakukan penelitian itu terdiri dari para pakar dari CIRAD (Perancis), McGill University (Kanada), Montpellier SupAgro (Perancis) dan PT Smart Research Institute Indonesia.

 

Pendekatan lanskap dikembangkan untuk mencakup data historis tanah, ragam jenis dan kelas tanah dan variasi rangkaian penggunaan pupuk di areal perkebunan sawit seluas 4.000 ha selama 7 tahun terakhir.

 

Positip Tapi Rumit

 

Informasi CGIAR mengenai kegiatan dan hasil penelitian menyebutkan bahwa di Indonesia, pekebun sawit menebar tandan kosong kelapa sawit dan limbah cair industri minyak sawit pada tanah sebagai ganti atau melengkapi pupuk anorganik, tergantung situasi dan kondisi mereka. Tanah yang diberi pupuk dari limbah itu bisa hanya yang dekat pada pabrik minyak sawit demi menghemat ongkos apklikasi. Kondisi tanah dan ketersediaann pupuk organik terkadang memaksa produsen menggunakan pupuk organik dan pupuk anorganik secara bergantian.

 

Biasanya, setiap ton minyak sawit yang diekstraksi menyisakan limbah 1 ton tandan kosong dan 2,5 ton limbah cair pabrik. Sebelum tahun 1980-an, limbah ini menjadi masalah lingkungan. Sekarang limbah itu sudah diolah menjadi pupuk organik yang kaya mineral dan karbon organik serta tidak bersifat toksik terhadap tanaman sawit. Aplikasinya cukup positif terhadap hasil kebun.

 

Namun, efek jangka panjang terhadap karakteristik tanah merupakan hal yang rumit karena menyangkut skala waktu dan ruang serta pengetahuan tentang siklus bio-geokimia mineral. Riset dilakukan di daerah beriklim basah tropis dengan curah hujan rata-rata 2.400 mm dan relief tanah agak bergelombang. Perlakuan pemupukan tidak sama, ada bagian yang secara khusus diberi pupuk organik atau pupuk anorganik, atau bergantian.

 

Tanah perkebunan sawit yang diteliti terdiri dari tiga tipe. Yakni tanah pasir campur lempung (loamy-sand soil, 75% pasir dan 10% lempung) berdrainase baik, tanah lempung berpasir (sandy loam soil, 50% pasir dan 16%) dengan permukaan air tanah dangkal, serta tanah lempung (11% pasir dan 51% lempung) dengan drainase buruk. Dua jenis pertama berada di puncak-puncak dan lereng gelombang permukaan tanah, sedangkan yang ketiga di dataran rendah yang dekat dengan perairan. Bagian terbesar adalah areal tanah yang tanah lempung berpasir yakni 50%, sedangkan tanah pasir campur lempung yakni 42%.

 

Kemasaman tanah lempung berpasir lebih rendah dari tanah pasir campur lempung, tetapi kandungan nitrogen, karbon organik, kapasitas pertukaran kation dan tingkat kejenuhan basa lebih tinggi. Jenis tanah ini juga lebih rentan terhadap pengikisan (leaching).

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Julianto

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162