Loading...

Pupuk Berimbang, Kembalikan Kesuburan Tanah

20:58 WIB | Tuesday, 05-April-2016 | Non Komoditi, Sarana & Prasarana | Penulis : Kontributor

Target peningkatan produksi tanaman pangan tahun ini semakin optimis dicapai. Namun, di sisi lain kesehatan tanah juga harus diperhatikan agar produksi bisa terus meningkat dan berkelanjutan.  

 

Bagaimana mengembalikan kesehatan dan kesuburuan tanah? Salah satunya dengan pemupukan berimbang antara anorganik, organik dan hayati. “Tanah itu ibarat ekosistem tersendiri dengan adanya organisme dan mikroorganisme, terjadi interaksi di dalamnya juga,” kata Pakar Kimia dan Kesuburan Tanah dari Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Atang Sutandi kepada Sinar Tani, beberapa waktu lalu.

 

Atang menceritakan, penggunaan pupuk anorganik sejak tahun 1960-an hingga kini telah menyebabkan akumulasi berlebihan di dalam tanah. Penggunaan pupuk anorganik ini akhirnya menggeser kebiasaan petani yang dahulu menggunakan pupuk kandang, pupuk dari krotalaria maupun pupuk dari tanaman turi.  “Lama kelamaan kadar organik dalam tanah semakin rendah,” ujarnya.

 

Kebiasaan petani yang memupuk tanpa takaran yang jelas juga menjadi keprihatinan tersendiri dan menyumbang akumulasi kandungan anorganik dalam tanah. Semakin sedikitnya organisme di dalam tanah, kesuburan tanah pun semakin berkurang. Parahnya lagi,  kemungkinan terkena hama penyakit tanaman semakin besar. “Patogen yang berasal dari tanah pun semakin banyak sehingga tanaman lebih rentan terkena penyakit,” tegasnya.

 

Menurut Atang, pemupukan yang ideal adalah unsur hara yang diberikan dapat melengkapi unsur hara yang tersedia dalam tanah, sehingga jumlah unsur hara yang tersedia menjadi tepat. Pemakaian pupuk organik secara kontinu dan berkesinambungan akan memberikan keuntungan dan manfaat dalam pemakaian jangka panjang.

 

Karena itu, Atang Sutandi menyarankan penggunaan pupuk berimbang antara pupuk anorganik, organik dan hayati. Pupuk organik mampu berperan memobilisasi atau menjembatani hara yang sudah ada ditanah, sehingga mampu membentuk partikel ion yang mudah diserap oleh akar tanaman. “Sedangkan pupuk hayati untuk “menambang” hara yang sudah terakumulasi di dalam tanah terutama P dan K,” katanya.

 

Menurutnya, pupuk organik dan hayati bukan sebagai pengganti pupuk anorganik, namun sebagai komplementer. Pasalnya, keduanya memiliki keunggulan dengan kelemahan yang berbeda dan dapat saling menutupi. Dengan demikian, menghasilkan hasil usaha tani yang maksimal, meningkatkan produktivitas tanah dan tanaman secara berkelanjutan dan ramah lingkungan. ”Penggunaan bersama bisa menghemat penggunaan pupuk anorganik hingga 25%,” katanya. Gsh

 

 

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162