Loading...

Rezeki Nomplok Budidaya Lele Bioflok

16:33 WIB | Monday, 08-May-2017 | Nusantara | Penulis : Gesha

Budidaya ikan kini berkembang pesat dan tak lagi menjadi usaha sampingan masyarakat. Dengan sentuhan teknologi padat tebar tinggi dipadukan asupan pakan berupa bioflok, ikan lele bisa memberikan penghasilan yang fantastis.

 

Inovasi pembesaran lele super intensif ini telah banyak dikembangkan sejak tahun 2010. Bahkan telah mampu mengubah kehidupan pembudidaya lele di Indonesia.

 

Bagaimana tidak, dengan menggunakan media kolam berbentuk lingkaran berdiameter 3,14 meter kubik dan padat tebar antara 500-1.500 ekor/meter kubik bisa menghasilkan keuntungan yang besar ketimbang di kolam pembesaran biasa.

 

Banyak kelebihan budidaya lele super intensif sistem bioflok ini. Di antaranya, hemat lahan dan air. Bukan hanya itu, air kolam tidak berbau seperti budidaya lele biasa, karena diberi probiotik yang berfungsi mengurai sisa-sisa pakan. Cita rasa daging lele sistem bioflok ini juga lebih enak dibanding budidaya lele biasa. Warna lelenya juga lebih menarik, yakni agak ke­ku­ning-kuningan dan cemerlang. 

 

Salah satu pendamping inovasi dari Klaster Perikanan dan Kelautan, Penas XV Petani dan Nelayan, Rahmad menuturkan, mikroorganisme ini ber­fungsi mengubah limbah bu­didaya, seperti sisa pakan dan kotoran ikan menjadi gumpalan-gumpalan kecil (floc) yang berguna sebagai makanan alami bagi ikan.

 

Teknik Bioflok

 

Bagaimana cara sistem bioflok ini? Awalnya, ikan ditebar se­banyak 2.500 ekor dengan ukuran panjang 6-7 cm/ekor. Setelah disortir ikan menjadi 2.000 ekor. Setelah 90 hari dilakukan panen dengan hasil mencapai 215 kg. Satu kilogram biasanya berjumlah 5-6 ekor.

 

Cara budidaya lele super intensif ini relatif mudah. Pasalnya, tak perlu pakan secara berlebihan. Kandungan protein pakan yang menjadi biaya tertinggi dalam pemberian pakan bisa dikurangi dengan cara menambahkan karbohidrat seperti, gula atau tetes, tepung biji-bijian (seperti tepung jagung, tepung ketela, tepung terigu).

 

Selama pe­m­eliharaan menghabiskan pakan 150 kg. Jumlah pakan sebanyak itu menurut Rahmad, cukup efisien. Untuk budidaya biasa, satu kilogram lele perlu pakan sebanyak 1 kg atau 1 : 1. Tapi dengan sistem bioflok, 1 kg lele hanya perlu pakan 700 gram atau 1 : 0,7 gram. Hitungan bisnisnya, dengan harga lele Rp 18-20 ribu/kg, maka pembudidaya lele bakal untung besar. “Panen lele dengan sistem ini melimpah, kolam yang kecil saja bisa berisi lele siap konsumsi yang bertumpang tindih seperti cendol,” ujarnya.

 

Penggunaan bioflok juga berfungsi sebagai pakan alami, sehingga budidaya lele ini hemat pakan. Bahkan, FCR pakan sistem tersebut bisa ditekan hingga 0,8 persen dan pemberian pakannya hanya 2 kali sehari.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162