Loading...

Ketika Harga Cabai Naik

10:53 WIB | Wednesday, 16-November-2016 | Agri Wacana, Kolom | Penulis : Kontributor

Di tengah heboh dan hiruk pikuk demonstrasi menggugat Ahok terkait dengan tuduhan penistaan agama, ternyata ada juga yang sedang heboh dan membuat banyak orang kelimpungan, yaitu naiknya harga cabai. Di beberapa daerah harga cabai merah telah menyentuh angka Rp 100.000/kg, bahkan lebih.

 

Di sentra produksi cabai harga cabai merah segar bisa mencapai Rp 36.000/kg, dan di tingkat konsumen bisa Rp 50.000/kg. Para pedagang yang menggunakan cabai sebagai sajian utama jelas dibuat kelimpungan, sementara rumahtangga yang selama ini ‘mewajibkan’ ada rasa pedas dalam setiap menunya terpaksa mengurangi rasa pedas itu.

 

Para petani, pedagang, dan analis menyatakan bahwa melambungnya harga cabai disebabkan kegagalan panen karena faktor cuaca. Hujan yang terus turun sepanjang musim ini membuat sebagian besar petani cabai tidak bisa panen. Kalau pun ada yang panen biasanya kualitas hasil panennya jelek atau produksinya menurun. Akibatnya jumlah produksi cabai tidak mampu mencukupi kebutuhan konsumen.

 

Bagi petani fenomena seperti ini tentu sudah menjadi hal biasa. Ketika faktor cuaca dan faktor  produksi lainnya tidak mendukung maka produksi akan turun, yang tentunya akan diikuti dengan penurunan produksi secara keseluruhan. Yang menjadi masalah, dan ini sungguh sangat menyakitkan, mengapa ketika petani tidak memiliki cabai atau komoditi pertanian lain harga justru melambung tinggi.

 

Sebaliknya, ketika petani sedang panen melimpah dan memiliki stok menumpuk harga justru sering terjerembab jatuh. Mengapa tidak pernah terjadi pembalikan hukum ekonomi, di mana petani suatu ketika menikmati harga tinggi ketika memiliki timbunan stok melimpah? Di mana jaminan pemerintah yang katanya akan melindungi harga hasil panen petani?

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162